Kalau mendengar nama Blitar, sebagian orang mungkin langsung teringat makan Bung Karno, Gunung Kelud, atau pantai-pantai di bagian selatan. Namun, Blitar juga mempunyai kekayaan sejarah yang jauh lebih tua, salah satunya adalah Candi Penataran.
Kompleks percandian ini menjadi salah satu peninggalan sejarah paling penting di Blitar. Bangunannya bukan hanya satu candi, tetapi terdiri dari beberapa bagian dalam sebuah kompleks yang cukup luas. Di tempat ini pengunjung dapat melihat bangunan kuno, arca, prasasti, serta relief yang memberikan gambaran mengenai kehidupan dan kepercayaan masyarakat jawa pada masa lalu.
Lokasi Candi Penataran
Candi Penataran berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Lokasinya berada di sisi barat daya Gunung Kelud dengan ketinggian sekitar 450 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Posisinya yang berada di kawasan utara Kabupaten Blitar, kawasan ini mempunyai banyak peninggalan candi dan situs kuno sehingga Blitar sering dikenal memiliki kekayaan peninggalan purbakala.
Candi Penataran Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan Kadiri
Salah satu hal menarik dari Candi Penataran adalah usianya yang sangat panjang. Menurut informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, nama lama atau nama yang dipercaya berkaitan dengan kompleks ini adalah Palah. Pembangunan awalnya dikaitkan dengan Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri pada sekitar akhir abad ke-12.
Namun, kompleks tersebut tidak selesai dalam satu periode pemerintahan. Pembangunan dan pengembangan kawasan berlangsung selama beberapa masa kerajaan. Karena itu, ketika melihat keseluruhan kompleks Candi Penataran, pengunjung sebenarnya sedang melihat jejak sejarah yang terbentuk secara bertahap selama ratusan tahun.
Sumber resmi Kabupaten Blitar juga mengaitkan perkembangan kompleks ini dengan masa Singhasari hingga Majapahit.
Mengapa Candi Penataran Dibangun di Dekat Gunung Kelud?
Lokasi Candi Penataran juga mempunyai cerita tersendiri.
Candi ini berada di kawasan Gunung Kelud, salah satu gunung berapi yang mempunyai sejarah panjang aktivitas vulkanik di Jawa Timur. Dalam catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, Candi Penataran berkaitan dengan fungsi keagamaan untuk memohon perlindungan dari bahaya yang ditimbulkan oleh Gunung Kelud.
Hal tersebut membuat Candi Penataran menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai bangunan kuno, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan manusia dengan lingkungan alam pada masa lalu.
Gunung yang bisa memberikan kesuburan bagi wilayah sekitar sekaligus mempunyai potensi bahaya tentu mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat masa itu.
Kompleksnya Tidak Hanya Satu Candi
Kesalahan yang cukup mudah terjadi ketika membayangkan Candi Penataran adalah menganggapnya sebagai satu bangunan candi.
Padahal, Candi Penataran merupakan sebuah kompleks.
Di dalam kawasan tersebut terdapat beberapa struktur bangunan, halaman, arca, prasasti, serta relief. Karena dibangun dan dikembangkan dalam periode yang berbeda, bentuk masing-masing bagian juga tidak selalu sama.
Itulah yang membuat perjalanan mengelilingi Candi Penataran terasa berbeda dibandingkan mengunjungi satu candi tunggal.
Pengunjung dapat melihat bagaimana sebuah kawasan keagamaan berkembang dari waktu ke waktu.
Relief Candi Penataran yang Menarik untuk Diamati
Salah satu bagian yang jangan dilewatkan ketika berkunjung adalah relief.
Relief pada Candi Penataran bukan sekadar hiasan dinding. Beberapa di antaranya mempunyai cerita dan simbol yang berkaitan dengan kehidupan serta kepercayaan masyarakat pada masa lalu.
Salah satu yang cukup terkenal adalah relief Kresnayana, yang menceritakan kisah Kresna dan Rukmini. Bahkan kisah tersebut masih menjadi inspirasi dalam pertunjukan budaya yang digelar di kawasan Penataran. Pada 2026, Festival Kresnayana XIII kembali digelar di Amphitheater Kawasan Wisata Penataran.
Ini menjadi contoh menarik bagaimana peninggalan sejarah yang berusia ratusan tahun masih dapat menjadi sumber inspirasi seni dan kebudayaan hingga sekarang.
Candi Penataran dan Hayam Wuruk
Hubungan Candi Penataran dengan Kerajaan Majapahit juga cukup kuat.
Dalam catatan sejarah Kabupaten Blitar, Raja Hayam Wuruk pernah mengunjungi Blitar dan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat yang dianggap penting dan suci. Candi Penataran termasuk salah satu lokasi yang dikaitkan dengan perjalanan tersebut.
Pada masa Majapahit, kawasan Blitar mempunyai posisi penting dalam perjalanan kerajaan. Catatan sejarah bahkan menyebutkan bahwa peninggalan candi di wilayah Blitar menunjukkan perkembangan kawasan tersebut dari masa Jayanegara hingga pemerintahan Majapahit berikutnya.
Jadi, ketika berkunjung ke Candi Penataran, pengunjung sebenarnya sedang memasuki salah satu bagian dari sejarah panjang Jawa Timur yang melewati beberapa periode kerajaan.
Ada Museum di Kawasan Penataran
Menariknya, wisata sejarah di kawasan Penataran tidak hanya mengandalkan bangunan candi.
Pada kawasan yang sama juga terdapat Museum Penataran, yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan sejarah. Koleksinya antara lain berupa arca, prasasti, bagian relief candi, serta sejumlah benda bersejarah lainnya.
Bagi pengunjung yang ingin memahami sejarah Candi Penataran lebih jauh, keberadaan museum ini menjadi pelengkap yang cukup menarik.
Jadi, jangan hanya datang, berfoto di depan candi, kemudian pulang. Luangkan waktu untuk memperhatikan koleksi dan informasi yang tersedia agar kunjungan terasa lebih lengkap.
Pernah Tertimbun Material Gunung Kelud
Ada satu fakta yang cukup menarik mengenai sejarah Candi Penataran.
Kompleks candi ini pernah mengalami kondisi tertutup material vulkanik akibat aktivitas Gunung Kelud. Pemerintah Kabupaten Blitar bahkan mencatat bahwa sejumlah peninggalan purbakala di wilayah Blitar pernah tertutup material gunung berapi.
Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara sejarah Candi Penataran dengan Gunung Kelud.
Di satu sisi, kawasan gunung memberikan lingkungan yang subur. Di sisi lain, letusan gunung dapat mengubah bahkan menutup kawasan yang telah dihuni dan digunakan manusia selama berabad-abad.
Ditemukan Kembali pada Masa Kolonial
Candi Penataran sebenarnya bukan bangunan yang baru ditemukan pada zaman modern.
Kompleks ini tercatat ditemukan kembali pada 1815 dan kemudian semakin banyak diteliti pada abad ke-19. Salah satu tokoh yang datang mengunjungi kompleks tersebut adalah Thomas Stamford Raffles, yang kemudian memasukkan catatan mengenai kunjungannya dalam History of Java.
Setelah itu, sejumlah peneliti dan ahli sejarah turut mendokumentasikan serta mempelajari kompleks Candi Penataran.
Dari sinilah peninggalan yang sebelumnya kurang dikenal mulai mendapatkan perhatian lebih luas.
Tips Berkunjung ke Candi Penataran
Karena area candi cukup luas, sebaiknya gunakan pakaian yang nyaman dan alas kaki yang cocok untuk berjalan.
Datang pada pagi hari juga bisa menjadi pilihan menarik. Selain suasananya relatif lebih nyaman, cahaya pagi dapat membuat detail batu dan relief terlihat lebih jelas ketika difoto.
Jangan menyentuh atau menaiki bagian candi yang dilarang. Bangunan ini merupakan peninggalan sejarah yang perlu dijaga bersama.
Jika ingin benar-benar menikmati tempatnya, jangan terburu-buru. Perhatikan relief, bentuk arca, susunan halaman, dan perbedaan struktur di setiap bagian kompleks.
Wisata Blitar Tidak Hanya Candi
Candi Penataran juga bisa dijadikan titik awal untuk mengeksplorasi wisata Blitar lainnya.
Kabupaten Blitar memiliki banyak pilihan wisata alam dan sejarah, mulai dari Gunung Kelud, Pantai Tambakrejo, Pantai Serang, Pantai Gondo Mayit, Rambut Monte, Candi Sawentar, hingga berbagai situs peninggalan sejarah lainnya.
Dengan begitu, perjalanan ke Blitar tidak harus hanya satu destinasi. Untuk perjalanan rombongan, misalnya, Candi Penataran dapat digabungkan dengan beberapa destinasi lain dalam satu rute wisata Blitar.
Baca Juga: Benteng Pendem Cilacap: Menyusuri Benteng Bawah Tanah Peninggalan Belanda di Tepi Laut.

[…] Baca Juga: Candi Penataran Blitar: Kompleks Candi Terbesar di Jawa Timur yang Punya Sejarah Panjang. […]